“MENGIDENTIFIKASI MATERI PEMBELAJARAN DAN
PEMETAAN KOMPETENSI”
Makalah Ini Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Pengembangan Silabus
Dosen
Pengampu :
Dr.
Dadang Gani, M.Ag

Oleh :
ISMI
NAVILAH
13.03.2882
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM
DARUSSALAM
2016
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada
dzat الله
SWT yang Maha Agung yang telah
memberikan kita beribu-ribu nikmat, nikmat iman, islam dan juga nikmat sehat. Sholawat serta salam
semoga tercurah limpahkan kepada nabi akhir zaman, pemimpin revolusi islam
sedunia, pembawa manusia dari era kejahiliyahan menuju ke era yang penuh dengan
ilmu pengetahuan yakni nabi Muhammad saw, kepada sahabat, tabi’intabi’at, dan
mudah-mudahan sampai kepada kita selaku umatnya. Sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “Mengidentifikasi Materi Pembelajaran dan Pemetaan Kompetensi”
Kami
menyadari bahwa makalah ini mempunyai banyak kekurangan. Oleh kerena itu kami
selaku penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk
memperbaikin makalah kami selanjutnya. Akhir kata, kami mengucapkan terima
kasih.
Ciamis, Mei
2016
Penulis
|
DAFTAR
ISI
BAB
I
PENDAHULUAN
Salah satu istilah yang relatif baru di telinga para
guru dan praktisi pendidikan seiring dengan berlakunya Kurikulum 2013 di
pertengahan Juli 2013 lalu adalah Kompetensi Inti (KI) yang pada Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 tidak ditemukan. Ada sebagian orang
menafsirkan bahwa KI menggantikan istilah untuk Standar Kompetensi (SK) pada
KTSP 2006. Mereka umumnya sepakat bahwa KI dan SK itu sama saja, karena sama-sama menghasilkan
kompetensi turunannya atau disebut Kompetensi Dasar (KD). Kedengarannya apa pun
itu yang sedang berkembang dalam benak guru dan para praktisi pendidikan atau
masyarakat sekali pun, kenyataannya pemerintah mengarahkan pendidikan sekarang
ini dengan memberlakukan kurikulum terbaru.
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (kemdikbud) harus menunjukkan sikap khususnya pada guru yang
diyakini sebagai pioner dalam pelaksanaan Kurikulum 2013. Oleh sebab itu,
sosialisasi dan pemantapan pelaksanaan Kurikulum 2013 terus dilakukan melalui
sejumlah riset dan Diklat guna mensukseskan implementasi Kurikulum 2013.
Agar
Memperjelas dalam pembahasan maka penyusun merumuskan masalah sebagi berikut:
a. Apa Definisi Indikator?
b. Apa Fungsi Indikator?
c. Apa Manfaat Indikator?
d. Bagaimana Mekanisme Pengembangan Indikator?
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
a. Mengetahui Definisi Indikator.
b. Mengetahui Fungsi Indikator.
c. Mengetahui Manfaat Indikator.
d. Memahami Mekanisme pengembangan Indikator.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Indikator
Indikator merupakan penanda
pencapaian KD yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang
mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai
dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi
daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat
diobservasi.
Dalam mengembangkan indikator
perlu mempertimbangkan: (1) tuntutan kompetensi yang dapat dilihat melalui kata
kerja yang digunakan dalam KD; (2) karakteristik mata pelajaran, peserta didik,
dan sekolah; dan (3) potensi dan kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan
lingkungan/ daerah.
Dalam mengembangkan pembelajaran dan
penilaian, terdapat dua rumusan indikator, yaitu: (1) indikator pencapaian kompetensi
yang dikenal sebagai indikator; dan (2) indikator penilaian yang digunakan
dalam menyusun kisi-kisi dan menulis soal yang di kenal sebagai indikator soal.
Indikator dirumuskan dalam bentuk
kalimat dengan menggunakan kata kerja operasional. Rumusan indikator
sekurang-kurangnya mencakup dua hal yaitu tingkat kompetensi dan materi yang
menjadi media pencapaian kompetensi.
B. Fungsi
Indikator
Indikator memiliki kedudukan yang
sangat strategis dalam mengembangkan pencapaian kompetensi berdasarkan KI-KD. Indikator berfungsi sebagai berikut:
1. Pedoman
dalam mengembangkan materi pembelajaran.
Pengembangan
materi pembelajaran harus sesuai dengan indikator yang dikembangkan. Indikator
yang dirumuskan secara cermat dapat memberikan arah dalam pengembangan materi
pembelajaran yang efektif sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, potensi
dan kebutuhan peserta didik, sekolah, serta lingkungan.
2. Pedoman
dalam mendesain kegiatan pembelajaran.
Desain
pembelajaran perlu dirancang secara efektif agar kompetensi dapat dicapai
secara maksimal. Pengembangan desain pembelajaran hendaknya sesuai dengan
indikator yang dikembangkan, karena indikator dapat memberikan gambaran
kegiatan pembelajaran yang efektif untuk mencapai kompetensi. Indikator yang
menuntut kompetensi dominan pada aspek prosedural menunjukkan agar kegiatan
pembelajaran dilakukan tidak dengan strategi ekspositori melainkan lebih tepat
dengan strategi discovery-inquiry.
3. Pedoman
dalam mengembangkan bahan ajar.
Bahan ajar
perlu dikembangkan oleh guru guna menunjang pencapaian kompetensi peserta
didik. Pemilihan bahan ajar yang efektif harus sesuai tuntutan indikator
sehingga dapat meningkatkan pencapaian kompetensi secara maksimal.
4. Pedoman
dalam merancang dan melaksanakan penilaian hasil belajar.
Indikator
menjadi pedoman dalam merancang, melaksanakan, serta mengevaluasi hasil
belajar, Rancangan penilaian memberikan acuan dalam menentukan bentuk dan jenis
penilaian, serta pengembangan indikator penilaian. Pengembangan indikator
penilaian harus mengacu pada indikator pencapaian yang dikembangkan sesuai
dengan tuntutan KI dan KD.
C.
Manfaat Indikator Penilaian
Indikator Penilaian bermanfaat bagi
: (1) guru dalam mengembangkan kisi-kisi penilaian yang dilakukan melalui tes
(tes tertulis seperti ulangan harian, ulangan tengah semester, dan ulangan
akhir semester, tes praktik, dan/atau tes perbuatan) maupun non-tes; (2)
peserta didik dalam mempersiapkan diri mengikuti penilaian tes maupun non-tes.
Dengan demikian siswa dapat melakukan self assessment untuk mengukur kemampuan
diri sebelum mengikuti penilaian sesungguhnya; (3) pimpinan sekolah dalam
memantau dan mengevaluasi keterlaksanaan pembelajaran dan penilaian di kelas;
dan (4) orang tua dan masyarakat dalam upaya mendorong pencapaian kompetensi
siswa lebih maksimal.
D.
Mekanisme Pengembangan Indikator
1. Menganalisis Tingkat Kompetensi
dalam KI dan KD.
Langkah pertama pengembangan
indikator adalah menganalisis tingkat kompetensi dalam KI dan KD. Hal ini diperlukan untuk memenuhi tuntutan
minimal kompetensi yang dijadikan standar secara nasional. Sekolah dapat
mengembangkan indikator melebihi standar minimal tersebut.
Tingkat kompetensi dapat dilihat
melalui kata kerja operasional yang digunakan dalam KI dan KD. Tingkat kompetensi dapat diklasifikasi dalam
tiga bagian, yaitu tingkat pengetahuan, tingkat proses, dan tingkat penerapan.
Kata kerja pada tingkat pengetahuan lebih rendah dari pada tingkat proses
maupun penerapan. Tingkat penerapan merupakan tuntutan kompetensi paling tinggi
yang diinginkan. Klasifikasi tingkat kompetensi berdasarkan kata kerja yang
digunakan disajikan dalam tautan ini.
Selain tingkat kompetensi,
penggunaan kata kerja menunjukan penekanan aspek yang diinginkan, mencakup
sikap, pengetahuan, serta keterampilan. Pengembangan indikator harus mengakomodasi
kompetensi sesuai tendensi yang digunakan KI dan KD.
Jika aspek keterampilan lebih menonjol, maka indikator yang dirumuskan harus
mencapai kemampuan keterampilan yang diinginkan.
Klasifikasi kata kerja berdasarkan aspek kognitif,
Afektif dan Psikomotorik disajikan dalam tautan ini.
2. Menganalisis Karakteristik Mata
Pelajaran, Peserta Didik, dan Sekolah
Pengembangan indikator
mempertimbangkan karakteristik mata pelajaran, peserta didik, dan sekolah
karena indikator menjadi acuan dalam penilaian. Sesuai Peraturan Pemerintah
nomor 32 tahun 2013,
karakteristik penilaian kelompok mata pelajaran adalah sebagai berikut.
Setiap mata pelajaran memiliki
karakteristik tertentu yang membedakan dari mata pelajaran lainnya. Perbedaan
ini menjadi pertimbangan penting dalam mengembangkan indikator. Karakteristik
mata pelajaran bahasa yang terdiri dari aspek mendengar, membaca, berbicara dan
menulis sangat berbeda dengan mata pelajaran matematika yang dominan pada aspek
analisis logis. Guru harus melakukan kajian mendalam mengenai karakteristik
mata pelajaran sebagai acuan mengembangkan indikator. Karakteristik mata
pelajaran dapat dikaji pada dokumen standar isi mengenai tujuan, ruang lingkup
dan KI serta KD masing-masing mata pelajaran.
Pengembangkan indikator memerlukan
informasi karakteristik peserta didik yang unik dan beragam. Peserta didik
memiliki keragaman dalam intelegensi dan gaya belajar. Oleh karena itu
indikator selayaknya mampu mengakomodir keragaman tersebut. Peserta didik
dengan karakteristik unik visual-verbal atau psiko-kinestetik selayaknya
diakomodir dengan penilaian yang sesuai sehingga kompetensi siswa dapat terukur
secara proporsional.
Karakteristik sekolah dan daerah
menjadi acuan dalam pengembangan indikator karena target pencapaian sekolah
tidak sama. Sekolah kategori tertentu yang melebihi standar minimal dapat
mengembangkan indikator lebih tinggi. Termasuk sekolah bertaraf internasional
dapat mengembangkan indikator dari KI dan KD
dengan mengkaji tuntutan kompetensi sesuai rujukan standar internasional yang
digunakan. Sekolah dengan keunggulan tertentu juga menjadi pertimbangan dalam
mengembangkan indikator.
3. Menganalisis Kebutuhan dan
Potensi
Kebutuhan dan potensi peserta didik,
sekolah dan daerah perlu dianalisis untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam
mengembangkan indikator. Penyelenggaraan pendidikan seharusnya dapat melayani
kebutuhan peserta didik, lingkungan, serta mengembangkan potensi peserta didik
secara optimal. Peserta didik mendapatkan pendidikan sesuai dengan potensi dan
kecepatan belajarnya, termasuk tingkat potensi yang diraihnya.
Indikator juga harus dikembangkan
guna mendorong peningkatan mutu sekolah di masa yang akan datang, sehingga
diperlukan informasi hasil analisis potensi sekolah yang berguna untuk
mengembangkan kurikulum melalui pengembangan indikator.
4. Merumuskan Indikator
Dalam merumuskan indikator perlu
diperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut:
5. Mengembangkan Indikator Penilaian
Indikator penilaian merupakan
pengembangan lebih lanjut dari indikator (indikator pencapaian kompetensi).
Indikator penilaian perlu dirumuskan untuk dijadikan pedoman penilaian bagi
guru, peserta didik maupun evaluator di sekolah. Dengan demikian indikator
penilaian bersifat terbuka dan dapat diakses dengan mudah oleh warga sekolah.
Setiap penilaian yang dilakukan melalui tes dan non-tes harus sesuai dengan
indikator penilaian.
Indikator penilaian menggunakan kata kerja lebih
terukur dibandingkan dengan indikator (indikator pencapaian kompetensi).
Rumusan indikator penilaian memiliki batasan-batasan tertentu sehingga dapat
dikembangkan menjadi instrumen penilaian dalam bentuk soal, lembar pengamatan,
dan atau penilaian hasil karya atau produk, termasuk penilaian diri.
BAB
III
PENUTUP
Indikator merupakan penanda pencapaian KD yang
ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap,
pengetahuan, dan keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan
karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah
dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat
diobservasi.
Dalam mengembangkan indikator perlu
mempertimbangkan:
(1) tuntutan
kompetensi yang dapat dilihat melalui kata kerja yang digunakan dalam KD;
(2) karakteristik
mata pelajaran, peserta didik, dan sekolah;
(3) potensi
dan kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan lingkungan/ daerah.
Demikianlah dalam hal ini
penulis akhiri makalah ini tak lupa mohon maaf kepada semua pihak, kritik dan
saran penulis harapkan demi perbaikan penulisan makalah ini selanjutnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Adaptasi dan disarikan dar:
Depdiknas. 2008. Panduan Pengembangan Indikator
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar